Indonesia Krisis Toleransi Antar Umat Beragama

Sebenarnya.com - Indonesia Krisis Toleransi Antar Umat beragama - Seperti biasa menjelang Natal, selalu ada saja isu negatif yang menyerang. Di internal umat Islam pandangan terkait mengucapkan 'Selamat Hari Raya Natal' masih beragam. Ada sebagian besar tidak mempersoalkan ucapan kepada umat Kristiani, tetapi ada yang mengharamkan.



Saya yang berlatar belakang memiliki orang tua Ayah seorang Kristiani dan Ibu seorang Muslim, sangat terganggu melihat berita masalah krisis toleransi setiap menjelang Natal, namun setiap Idul Fitri yang non Muslim kalem kalem aja. Berikut ini beberapa ulasan yang mungkin bisa membuka sedikit wawasan.



DALIL MANA YANG LARANG 
UCAPKAN SELAMAT NATAL?
AL-KAFIRUN?

Diriwayatkan Ibnu Ishak, suatu hari orang-orang ARAB QURAISH mendatangi Nabi Muhammad & berkata, "Wahai Muhammad, bagaimana bila kita bekerja-sama dalam ibadah? Kami akan menyembah yang kau sembah, tapi kau juga menyembah yang kami sembah."

Turunlah firman Allah, لَكُم دينُكُم وَلِيَ دينِ , "Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku" (Al-Quran, surat Al-Kafirun, ayat 6). ini adalah ASBABUN NUZUL (sebab turun ayat) Al-Kafirun, ditujukan kepada Arab Quraish yang mengajak MENYATUKAN AGAMA.

Apakah mengucapkan "Selamat Natal" artinya kita MENYATUKAN AGAMA Islam & Kristiani? Ucapan selamat tak lebih dari ADAB SANTUN tidak ada bedanya dengan ucapan "Selamat Ulang Tahun", atau "Selamat Menempuh Hidup Baru" bagi pasangan baru menikah, atau saat mendengar istri kawan baru hamil.

Masalahnya dimana? TIDAK ADA urusannya dengan Akidah, hanya adab BERBAGI BAHAGIA. tidak kurang tidak lebih, karena kita manusia, bukan binatang. Menggunakan Al-Kafirun yang ditujukan kepada ARAB Quraish karena mengajak MENYATUKAN agama untuk mengharamkan "Selamat Natal" jelas Jaka Sembung Bawa Golok!

DALIL MENYERUPAI KAUM?

Syahadat Islam adalah, "Ashadu allailaha illallah, wa'ashadu anna Muhammadar Rosulullah". MENGAPA HARUS ADA kalimat "dan Muhammad utusan Allah"? Karena ISLAM DITURUNKAN kepada Nabi Muhammad SAW.

Apa boleh Syahadat "dan Musa utusan Allah"?
Apa boleh Syahadat "dan Isa utusan Allah"?
Mengapa harus "dan Muhammad utusan Allah?"
KARENA ALQURAN (ISLAM) MUKZIZAT MUHAMMAD

Islam turun kepada Nabi Muhammad menyempurnakan agama-agama yang sudah turun SEBELUM Islam. Agama YUDAISME (Taurah) yang turun kepada Nabi Musa. Agama NASRANI (injil) yang turun kepada Nabi isa (Yesus). ISLAM PUNYA NABI MUHAMMAD.

Agama YUDAISME turun kepada Musa
sebelum Islam turun kepada Muhammad

Agama KRISTIANI turun kepada Isa (Yesus)
sebelum Islam turun kepada Muhammad

CADAR ADALAH TRADISI YUDAISME
SUNAT ADALAH TRADISI YUDAISME
HIJAB ADALAH TRADISI KRISTIANI

Cadar, Sunat, Hijab adalah tradisi agama YUDAISME & KRISTIANI yang sudah dilakukan oleh bangsa Yahudi (bani Israil) & umat Nasrani JAUH SEBELUM Islam turun kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya.

ARTINYA: bila memaksakan dalil "barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia akan menjadi kaum tersebut" untuk mengharamkan ucapan Selamat Natal..

MAKA BERCADAR JADI YAHUDI
MAKA DISUNAT JADI YAHUDI
MAKA BERHIJAB JADI KRISTEN

Berdasarkan KAJIAN inilah Ulama-Ulama Besar Indonesia yang bergelar PROFESOR DOKTOR yang pasti pintar & menguasai ilmu Islam yang luhur menetapkan umat Muslim BOLEH mengucapkan "Selamat Natal"..

KETUM NU, PROF.DR. KH. SAID AQIL SIRADJ: tidak ada larangan ucapkan selamat hari natal bagi umat Kristiani
http://nasional.kompas.com/…/Ketum.PBNU.Selamat.Hari.Natal.…

KETUA MUI, DIN SYAMSUDDIN: umat Islam boleh mengucapkan selamat natal. Alasannya, semua itu dilakukan sebatas saling menghormati.

SEPUH MUHAMAMDIYAH, PROF.DR. H. SYAFI'I MA'ARIF: Tiap tahun saya mengucapkan 'Selamat Natal' kepada umat kristiani, tidak perlu dipermasalahkan

Menteri Agama: Selamat Merayakan Natal

‪#‎IslamTanpaMengkafirkan‬
‪#‎ITM‬


GUE YANG NATALAN KOK SITU YANG RIBUT ??


Semua pihak harus saling menghargai dan menghormati pandangan masing-masing. Jadi kalau ada umat Islam tidak mengucapkan itu katakan sampai mengucapkan haram itu bagian dari pemahaman.

Itu harus dihormati dan dihargai. Sebagaimana, kita menghormati dan menghargai yang tidak mempersoalkan."


Bagi seorang Kristen, tidak masalah baginya mendapat ucapan salam atau selamat  selamat, termasuk ucapan Selamat Natal dari orang lain; yang penting baginya adalah seperti pesan Yesus di bawah ini,

Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian

Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka, … salammu itu turun ke atasnya.
Berilah salam seorang kepada yang lain, ….  dan saling mendahului dalam memberi hormat, … .

Janganlah kita menuntut hormat; hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu.


Rangkaian kalimat di atas merupakan bagian teks Kitab Suci, yang bersifat pesan moral – etika dalam kerangka hubungan antara manusia atau sosial.

Dalam kerangka itu pula, pada diri setiap Kristiani, ada semacam keharusan – kewajiban etis pada dirinya, agar mengucapkan Salam, Shalom, Eirene, hormat, kepada semua orang. Dengan demikian Umat Kristiani Tak Berharap, Meminta, Menuntut Ucapan Selamat Natal dari Siapapun

Memberi – mengucapkan Selamat Natal tersebut, merupakan panggilan nurani dan suara hati. Boleh dan tidak bolehnya –  ya  atau pun tidaknya, tergantung input yang masuk ke/dalam nurani masing-masing orang.


Bagi umat Kristen, pada umumnya, mereka tidak pernah mempermasalahkan dirimu – diriku memberi-mengucapkan Selamat Natal ke/pada dirinya(mereka). Karena memang, bagi seorang Kristiani ia tak boleh meminta atau menuntut ucap dan ucapan selamat, shalom, tabe,’ eirene, dan kata-kata sejenisnya dari siapa pun juga; namun ia wajib memberi ucapan selamat semua orang.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin pernah berkata 

"Kami memohon umat Kristiani berjiwa besar melihat realitas ini. Sebab di internal umat Islam beragama pandangannya.

Di internal umat Islam pandangan terkait mengucapkan 'Selamat Hari Raya Natal' masih beragam. Ada sebagian besar tidak mempersoalkan ucapan kepada umat Kristiani, tetapi ada yang mengharamkan.

Semua pihak harus saling menghargai dan menghormati pandangan masing-masing. Jadi kalau ada umat Islam tidak mengucapkan itu katakan sampai mengucapkan haram itu bagian dari pemahaman.

Itu harus dihormati dan dihargai. Sebagaimana, kita menghormati dan menghargai yang tidak mempersoalkan."


Jadi, Tuan Menteri Agama tak perlu memberi pernyataan agar umat Kristen berjiwa besar jika tak mendapat ucapan Natal; emangnya kami butuh!? Tidak, Pak Menteri.

Oleh sebab itu, Wahai Tuan Menteri, "nguruslah mereka-mereka yang sibuk bertengkar tentang boleh tidaknya Selamat Natal; mereka yang perlu belajar dan diajari bagaimana menghargai serta menghormati iman orang lain; didiklah mereka yang selalu usil dengan hal-hal diimani oleh orang lain."

Coba Pak Menteri lihat di Media Sosial, Cetak, Pemberitaan, adakah ucapan dan pernyataan pemimpin umat, Gereja, atau tokoh agama Kristen, yang "meminta agar orang lain memberi ucapan selamat Natal ke/pada umat Kristen!? Adakah permintaan yang keluar dari mulut mereka agar semua umat beragama dan tak beragama memberi Salam dan Ucapan Natal ke/pada Si Kristen dan Sang Katolik!? Tidak ada, sekali lagi tidak ada; dan sekali lagi, tidak ada seperti itu.

Pak Menteri, justru yang ada adalah, "Gue yang Natalan, sana yang ribut; dan mengajak orang lain ikut tidak memberi ucapan Selamat Natal. Kemudian, di sana juga yang saling debat, boleh tidaknya dan haram halalnya ucapkan Natal." Sementara, umat Kristen dan Katolik, yang (akan) merayakan Natal, cuma menjadi penonton setia; setia  menonton perdebatan antara sesama mereka di sana."

So, janganlah "bertengkar" tentang boleh tidak ucapkan Natal, karena itu tak bermanfaat dan tak berguna, malah hanya menunjukkan "ketidaksukaan" terhadap hal-hal yang ada pada orang lain; dan selain itu, memalukan.

Memalukan karena, "Gue yang Natalan, malah lue yang ribut!"


Sumber :
http://www.kompasiana.com/opajappy/gue-yang-natalan-situ-yang-ribut_54f388927455139d2b6c790f

Ini ada video tausiah yang disiarkan stasiun TV 'Memang Beda' dalam acara "DAMAI INDONESIAKU" tapi justru bikin ngga damai dan membuat saya juga inin mengatakan 'Gue yang Natalan, kok situ yang ribut ?'

video




Berikut ini beberapa gambar untuk renungan

Inti dari setiap agama

Coba tengok negara lain
Disaat para kaum 'kafir' Amerika sibuk mikirin bagaimana menghilangkan islamofobia atau pandangan islam sbg teroris.....
Kita di indonesia masih sibuk memikirkan menghancurkan Kristenisasi, mengharamkn ucapan selamat Natal, merayakan tahun baru, dan jatah nasi bungkus




Karna Islam tidak harus Arab, karna Arab belum tentu Islam
Coba saja search : doa Bapa Kami dalam bahasa Arab




0 Response to "Indonesia Krisis Toleransi Antar Umat Beragama"

Post a Comment

Beri komemtar yang relevan dengan konten

Baca dulu artikelnya, baru komentar yaaa ^^

no link :)